Search This Blog

24 December 2008

Merry Christmas




Free Graphics - MySpace/Xanga/Friendster

Read More ..

23 October 2008

PRAY ANYWAY- Matthew 14:22-23

Matthew 14:22-23

Taken from the book "A Shepherd's Voice", Reflections on the Sunday Gospel
( Cycle A ) by Most Rev. Mylo Hubert C. Vergara, DD, MA, STD.


When you don't know how to pray, pray anyway!is no excuse.
When you don't feel like praying, pray anyway! Depression is no excuse.When dullness sits on you like a vulture, and you can't muster enough enthusiasm to change channels,much less to pray, pray anyway! Boredom in no excuse!
When you see no need to pray and no reason to intercede for those about you,
recognize this as a sign of impending danger, and pray anyway! Blindness is no excuse. When you've grown spiritually lazy and feel that you'll never be able to pick up your Bible and read it the way you once did, especially pray anyway.

Laziness is no excuse.When you don't understand what big deal is about prayer,and you think it's overrated because it never did you much good, pray anyway. Immaturity is no excuse. When you're tired to remember your own name, and you know God will understand if you don't pray, pray anyway. Fatigue is no excuse. When you're embarassed to be back before God, confessing the same sins and admitting the same failures, come on and pray anyway. Shame is no excuse. When you've been unfaithful and you know it and you feel that burden of guilt that makes you want to run and hide under the porch, pray anyway Sin is no excuse. When the nagging voice of the enemy keeps telling you there is no God and even if there were, He'd never have anything to do with a nothing like you, pray anyway. Unbelief is no excuse.

We can bless ourselves immeasurably by rescuing our prayer life from bondage to our emotions and circumstances. There is no time and there are no conditions in which prayer is not necessary,not helpful, and not the right thing to do.

Read More ..

18 October 2008

Why did William Sidis, the world's (2nd) smartest human, achieve so little in life?

--------------------------------------------------------------------------------

Dear Cecil:

Of course we all know you're the world's smartest human. However, I've heard about this guy, William James Sidis, who might have been the world's smartest person when he was alive. Harvard's youngest graduate, he was a lightning calculator and a linguistic genius, supposedly publishing papers anticipating the existence of black holes and other astronomical phenomena. On the other hand, he lived in obscurity, on the run from the law, and frankly most of his writings sound like gobbledygook to me, not that I'm any judge. For the world's smartest man, his name is conspicuously absent from my textbooks on science or philosophy. So, Cece baby, what's the straight dope? Was Sidis a misunderstood genius or a kook savant? --Dutch Courage, via the Internet, Youngstown, Ohio

Cecil replies:

Yeah, like there's a difference. All we know is that Sidis, celebrated as a prodigy in his youth, produced virtually nothing of consequence as an adult. One of his major contributions to world literature was a book about streetcar transfers, which a biographer described as "the most boring book ever written." A few have professed to find deep meaning in this work and believe Sidis's many unpublished writings would yield great truths if only we lesser folk (well, you lesser folk) had the wit to understand them. But the more common explanation is that he was a gifted lad who was pushed too far too fast.

Sidis was born April 1, 1898, to Russian Jewish immigrants to the U.S. From the evidence, Boris and Sarah Sidis were brilliant but neurotic--always a dangerous combination in parents. Determined to raise their son as a genius, the Sidises read him Greek myths, taught him to spell using alphabet blocks, etc. They claimed Billy spoke his first word at six months and was reading the New York Times at a year and a half. To my mind this tells you more about the parents than the kid, and many say the Sidises viewed their son more as a living experiment than as a child.

Sidis was later estimated to have an IQ in the 250-300 range, and while that's conjectural (hell, foolish--on what basis could the scale be run up that high?), there's little doubt that he was a very smart guy. He learned languages easily and had a knack for such stunts as mentally computing the day of the week for any date in history. At age eight he attracted national notice for sailing through high school and passing the MIT entrance exam. At 11 he became the second youngest student ever to enroll at Harvard. A few months later he gave a talk at the Harvard mathematics club on "Four-Dimensional Bodies" that in the opinion of fellow prodigy Norbert Wiener would have been impressive coming from a graduate student.

Things got a little rockier after that. Having graduated cum laude at age 16, Sidis entered Harvard Law School but dropped out before completing his degree. He took a job teaching mathematics at Rice University but was harassed by the students and quit after a short time. He flirted with leftist causes and was briefly in the news in 1919 after being arrested for his involvement in a socialist rally that turned into a riot.

After that, nothing. Estranged from his parents, Sidis worked for the rest of his life as a bookkeeper or at other jobs incommensurate with his talents. He seldom socialized, for that matter seldom bathed, and spent his off hours working on manuscripts on obscure subjects. The only book he published under his own name was The Animate and the Inanimate (1925), a philosophical work that his admirers claim anticipated the theory of black holes. In 1923 the newspapers gleefully reported that he was working as a $23-a-week clerk in New York City. The press paid him no further notice until 1937, when the New Yorker ran a piece entitled "April Fool" that poked fun at his lowly station. Sidis sued and eventually received a small settlement. He died in 1944.

Why someone of Sidis's talents achieved so little has been the subject of some debate. Some say he demonstrates the folly of pushing young geniuses too soon; others blame his nutty parents. He was rescued from anonymity by Robert M. Pirsig, author of the cult classic Zen and the Art of Motorcycle Maintenance, who wrote about Sidis in his book Lila: An Inquiry Into Morals. He's now solidly ensconced in the pantheon of beings Too Smart for Their Own Good. Lord knows I've been there myself.

--CECIL ADAMS

http://www.straightdope.com/classics/a991210.html

Read More ..

20 September 2008

Mother

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya
dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini
hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak
baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena
anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu
baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap
panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci
demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat
tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki
telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu
menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan,
setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih
mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak,
ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak
untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha
besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik,
dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis
terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan
kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan
dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya
mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan
perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh
dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang
baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara
perlahan -lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga
keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan
sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya
juga tidak bahagia.
Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu,
dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh
hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami
saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!
Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada
separoh lantai lagi yang belum di pel ?
Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang
sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu
juga kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus
mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.
Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan
teringat akan ayah saya...
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
perkawinannya,
Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.
Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam
mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih,
namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai
ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah
tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.
cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah
melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak
diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami,
menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel
di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit
tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu
kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada
yang mencuci pakianmu....dan saya mengatakan sekaligus serentetan
hal-hal yang dibutuhkannya.
Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah
kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar
membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari
ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami
memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara
pihak kedua.

Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan
meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar
kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu
senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau
sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit,
misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar.
Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan
merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.
Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada
saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut
sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun,
jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami
ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya
hidup.
Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan,
misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang
perjalanan keluar kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami,
setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa
menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan
kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah
perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang
saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah
menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya
akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka
terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua,
bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat
merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini
juga sudah kecewa dan hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap
orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan
cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak
kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang
baik, pasti dapat diharapkan.

Read More ..

16 September 2008

Subject: Effort and simplicity

Quote 1:
Ever hear the story of the giant ship engine that failed?
The ship's owners tried one expert after another, but none of them could
figure out how to fix the engine. Then they brought in an old man who
had been fixing ships since he was a youngster. He carried a large bag
of tools with him, and when he arrived, he immediately went to work.

He inspected the engine very carefully, top to bottom. Two of the ship's
owners were there, watching this man, hoping he would know what to do.
After looking things over, the old man reached into his bag and pulled
out a small hammer. He gently tapped something. Instantly, the engine
lurched into life. He carefully put his hammer away. The engine was
fixed!

A week later, the owners received a bill from the old man for ten
thousand dollars. "What?" the owners exclaimed. "He hardly did
anything!" So they wrote the old man a note saying, "Please send us an
itemized bill."

The man sent a bill that read:

Tapping with a hammer $2.00
Knowing where to tap $9998.00
________________________

Effort is important, but knowing where to make an effort in your life
makes all the difference.
________________________


Quote 2:
One of the most memorable case studies I came across on Japanese
management was the case of the empty soap box, which happened in one of
Japan's biggest cosmetics companies. The company received a complaint
that a consumer had bought a soap box that was empty.

Immediately the authorities isolated the problem to the assembly line,
which transported all the packaged boxes of soap to the delivery
department. For some reason, one soap box went through the assembly line
empty.

Management asked its engineers to solve the problem. The engineers
worked hard to devise an X-ray machine with high-resolution monitors
manned by two people to watch all the soap boxes that passed through the
line to make sure they were not empty. No doubt, they worked hard and
fast but they have to spend many hours looking at boxes.

But when a rank-and-file employee in a small company was posed with the
same problem? He did not get into complications of X-rays, etc. but
instead came out with another solution. He bought a strong industrial
electric fan and pointed it at the assembly line. He switched the fan
on, and as each soap box passed the fan, it simply blew the empty boxes
out of the line.
________________________

Devise the simplest possible solution that solves the problem. Learn
to focus on solutions not on problems. Be simple, solve simply.

Read More ..

12 September 2008

Jambu

JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) mengandung berbagai zat gizi yang dapat digunakan sebagai obat. Menurut catatan Parimin S.P. dalam Jambu Biji: Budi Daya dan Ragam Pemanfaatannya (Penebar Swadaya, 2007), dalam tiap 100 gram jambu biji masak segar terdapat 0,9 g protein, 0,3 g lemak, 12,2 g karbohidrat, 14 mg kalsium, 28 mg fosfor, 1,1 mg besi, 25 SI vitamin A, 0,02 mg vitamin B1, 87 mg vitamin C, dan 86 g air, dengan total kalori sebanyak 49 kalori. Kandungan vitamin C jambu biji dua kali lipat jeruk manis yang hanya 49 mg per 100 g buah. Vitamin C itu terkonsentrasi pada kulit dan daging bagian luarnya yang lunak dan tebal.


Kandungan vitamin C jambu biji
memuncak saat menjelang matang. Kandungan vitamin C pada jambu biji sanggup memenuhi kebutuhan harian anak berusia 13-20 tahun yang mencapai> 80-100 mg per hari, atau kebutuhan vitamin C harian orang dewasa yang mencapai 70-75 mg per hari. Dengan demikian, sebutir jambu biji dengan berat 275 g per buah dapat mencukupi kebutuhan harian akan vitamin C pada tiga orang dewasa atau dua anak-anak. Turunkan Kolesterol Jambu biji juga kaya serat, khususnya pektin (serat larut air). Manfaat pektin antara lain menurunkan kolesterol dengan cara mengikat kolesterol dan asam empedu dalam tubuh serta membantu mengeluarkannya. Penelitian yang dilakukan Singh Medical Hospital and Research Center Morrabad, India , menunjukkan bahwa jambu biji dapat menurunkan kadar kolestreol total dan trigliserida darah serta tekanan
darah pada penderita hipertensi. Ada pun tanin yang menimbulkan rasa sepat pada jambu biji bermanfaat memperlancar sistem pencernaan dan sirkulasi darah, serta menyerang virus. Kalium yang terkandung pada buah ini berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat gizi ke sel tubuh, serta menurunkan kadar kolesterol total dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Menurut penelitian, memakan jambu biji 0,5-1 kg/hari selama empat minggu, risiko terkena sakit jantung dapat berkurang hingga 16. persen. Dalam jambu biji juga ditemukan likopen, yaitu zat karotenoid (pigmen penting dalam tanaman) yang memiliki aktivitas antioksidan, sehingga bermanfaat memberikan perlindungan pada tubuh dari serangan beberapa jenis kanker. Dalam jambu biji merah, kandungan likopen
ini tersedia dalam jumlah melimpah. Kemudian daun jambu biji yang juga sering dimanfaatkan sebagai obat, diketahui mengandung tanin, eugenol (minyak asiri), minyak lemak, damar, zat samak, triterpinoid, dan asam apfel. Biji jambu mengandung 14 persen minyak atsiri, 15 persen protein, dan 13 persen tepung. Untuk catatan, jambu biji juga punya nama sebutan lain. Di antaranya glima breueh, glimeu beru, galiman, masiambu, biawas, jambu biawas, jambu batu (Sumatera); jambu klutuk, jambu krutuk, jhambu bhender, bayawas, tetokal, tokal (Jawa); jambu klutuk (Sunda); kojabas (Nusa Tenggara); kayawese (Maluku); fan shi liu gan (Cina). Ragam Pemanfaatan Menurut dokumentasi Parimin S.P. dan PDII-LIPI, di berbagai tempat, jambu biji lazim digunakan sebagai pengobatan dengan penyajian sebagai berikut:
Penguat jantung, membantu sistem pencernaan, dan antikanker Jus jambu biji 200 ml Jus apel 400 ml Jus melon 200 ml Madu murni 100 cc Blender semua bahan sampai halus kemudian simpan di lemari pendingin. Minum secara teratur setiap pagi dan sore masing-masing 300 cc. Demam berdarah dengue (DBD) Ramuan 1: Jambu biji matang dan mengkal 3 buah dicuci bersih. Jambu yang sudah matang diblender sampai halus lalu> disaring sehingga diperoleh jus jambu biji. Jus jambu biji diminum tiga kali sehari sampai DBD sembuh. Buah yang mengkal dimakan langsung bersama kulitnya. Biji buah tidak perlu ikut dimakan. Ramuan 2: Daun jambu biji segar 1 kg dicuci bersih, kemudian dipotong kecil-kecil (rajang). Blender dengan air secukupnya hingga halus. Sari ng dan endapkan, sehingga ekstrak daun terpisah dengan air. Oven
ekstrak daun tersebut agar tahan lama. Cara pemakaian: - Masukkan ekstrak ke dalam kapsul lalu minum dua kali sehari, setiap pagi dan sore. - Minum ekstrak daun bersama sirop jambu biji dengan takaran 1 sendok teh untuk 1/2 liter sirop yang diencerkan. Minum secara teratur sampai keluhan sembuh. Diare Ramuan 1: Daun jambu biji 30 gr ditambah segenggam tepung beras direbus dengan 1-2 gelas air. Larutan diminum 2 kali sehari.. Ramuan 2: Tiga lembar daun jambu biji muda segar dikunyah dengan sedikit garam, lalu ditelan. Lakukan sehari 2 kali. Ramuan 3: Enam lembar daun jambu biji dicuci bersih lalu ditumbuk sambil diberi 1 cangkir air matang, peras, minum airnya. Cukup untuk diminum 2 kali sehari. Minum air perasannya. Lakukan setiap hari secara teratur, sampai benar-benar sembuh.
Maag Dela pan helai daun jambu biji dicuci, rebus dengan 1,5 liter air. Minum 3 kali sehari. Disentri Siapkan akar daun jambu biji secukupnya dan daun jambu 10 lembar. Potong-potong akar dan daun, cuci bersih, lalu rebus dengan air secukupnya selama 20 menit pada suhu 90 derajat Celsius. Sari ng air rebusan lalu minum secukupnya secara teratur sampai keluhan hilang. Luka Tiga pucuk daun jambu biji dicuci, kunyah sampai lumat. Tempelkan pada luka. Kandungan astringent-nya dapat menghentikan perdarahan. Keputihan Dua genggam daun jambu biji muda dan 7 helai daun sirih dicuci, rebus dengan segelas air, saring. Tunggu agak dingin lalu minum. Cukup untuk diminum 2 kali sehari. Perut kembung pada anak Tiga helai daun jambu biji, 2 cm kulit batang pulasari, 5 butir adas direbus dengan 1,5 gelas air sampai airnya tinggal setengah, saring. Minum 3 kali sehari. Dosis untuk anak di bawah umur 3 tahun sesendok makan, di atas 3 tahun 2 sendok makan. Sakit kulit Ramuan 1: Segenggam daun jambu biji muda dan 7 kuntum bunga> jambu biji dicuci, lumatkan sampai halus. Gosokkan pada kulit yang sakit. Ramuan 2: Daun jambu biji segar 500 gram dipotong-potong lalu direbus dengan air panas 90 derajat Celsius selama 20 menit. Sari ng air rebusan lalu gunakan untuk mandi selagi airnya masih hangat. Lakukan secara teratur sampai penyakit kulit hilang. Diabetes Satu buah jambu biji yang masih mengkal dipotong-potong, rebus dengan 3 gelas air hingga tinggal 1 gelas, saring. Minum 2 kali sehari. Beser (sering buang air kecil) Tiga pucuk daun jambu biji dicuci,
lalap dengan sedikit garam dan merica. Makan setiap siang dan malam selama 2 hari. Sariawan Ramuan 1: Rebus 1 genggam daun jambu biji segar ditambah 1 jari kulit batangnya dengan 1 liter air, saring. Minum 2 kali sehari. Ramuan 2: Daun jambu biji muda 2 lembar, daun sirih segar 1 lembar, daun saga segar satu genggam dicuci sampai bersih. Tumbuk semua bahan sampai halus lalu tambahkan air. Peras> adonan itu lalu gunakan airnya untuk kumur-kumur 2-3 kali sehari. Luka berdarah atau borok di sekitar tulang Lumatkan daun jambu biji segar, tempelkan di tempat yang sakit. Lakukan beberapa kali sehari. Ambeien Ramuan 1: Daun jambu biji muda atau pucuknya dan sebuah pisang batu dicuci, lalu ditumbuk. Minum air perasannya. Lakukan setiap hari secara teratur, sampai benar-benar
sembuh. Ramuan 2: Buah jambu biji segar 500 gram direbus menggunakan air secukupnya hingga menjadi cairan kental.. Oleskan cairan itu ke bagian tubuh yang sakit.

Read More ..